Pertama Tidak Sama Dengan Terakhir?

aku2

Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 23.50 waktu Jogja. Entah apa saja yang aku lakukan tadi. Perasaanku kembali berkecamuk. Hatiku ingin menangis, tapi tanpa air mata kalau bisa. Lagi-lagi perasaan itu menyerangku. Perasaan dimana aku merasa berada di padang pasir, panas dan gersang. Entahlah, aku benar-benar tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini. Aku pikir aku sudah terbebas dari musuh besarku ini. Namun ternyata tidak, aku salah, dan entah kenapa aku seringkali melakukan kesalahan, prediksiku seringkali meleset dan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Perasaan ini tetap bersemayam dalam diriku. Ah sudahlah, mungkin aku hanya kesepian.

Rutinitasku monoton beberapa hari ini. Pengangguran, tidak ada pekerjaan selain mempersiapkan diri untuk seminar nasional sabtu besok, dan mengajar les privat di sore hari. Pagi hari aku habiskan untuk sedikit bermalas-malasan, karena aku merasa sudah tidak ada lagi yang dapat aku kerjakan. Sesekali aku browsing-browsing untuk mencari pekerjaan yang sifatnya freelance yang dapat menopang studi S2-ku kelak. Memang baru sekedar wacana dan rencana mengenai lanjut kuliah S2 ini, tetapi aku merasa semuanya akan berjalan seperti apa yang aku pikirkan. Sebenarnya aku masih memiliki waktu sekitar enam bulan untuk mempersiapkan itu semua, maksudku mempersiapkan bagaimana nanti aku menjalani kehidupan S2-ku kelak. Namun tidak berlebihan sepertinya jika aku persiapkan sejak dini.

Saat ini, aku benar-benar jenuh. Persiapan wisuda sudah selesai, hanya tinggal ambil baju Toga dan wisuda tanggal 18/19 Februari besok. Ada dua sisi pemikiran yang kontradiktif dalam kepalaku. Di satu sisi aku merasa bebas dari tugas-tugas kuliah yang dulu sering sekali membuatku susah tidur, kuis menjelang ujian akhir semester, dan belajar “wayangan” jika waktunya ujian akhir. Namun di sisi yang lain, aku merasa jenuh dan bosan. Terkadang aku merindukan rutinitasku beberapa waktu yang lalu. Kuliah di pagi hari, bimbingan skripsi seminggu sekali dan menantikan saat-saat ujian pendadaran skripsi. Walaupun sebenarnya yang paling menyenangkan adalah saat-saat menanti tadi, maksudku menanti untuk diuji tentang apa yang aku kerjakan dalam tugas akhirku.

aku2

Malam ini aku ingin sedikit mereview kembali hidupku, dan menuliskannya di sini tentu saja. Aku jadi teringat beberapa hal malam mini. Beberapa waktu yang lalu aku mendengar komentar salah seorang sahabatku,

“Sudahlah Pin, sama si A saja. Lihat tuh, dia begitu perhatian sama kamu, kurang apa coba? Buat apa mengharapkan si **** yang sudah jelas-jelas tidak mengharapkanmu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik”

Huh, menakutkan sekali komentar sahabatku tersebut. Mendengar hal itu, aku seketika menjawab, “Hei, aku baik-baik saja, kawan”. Aku juga teringat komentar orang yang melahirkan aku beberapa bulan yang lalu,

“Eh Pin, kowe apa ngerti anake kaji ****? Kae loh sing jenenge ***. Bocah kae lulusan pondhok pesantren loh, juga mandan manis kayane”.

Tersenyum kecut aku mendengar celoteh ibuku tadi. Dia sepertinya khawatir padaku. Ingin sekali aku mengatakan, “Wahai ibu, aku baik-baik saja”. Aku hanya bisa menjawab sekenanya saja saat itu, “Duh mamake, ben lah jorna baen. Rika ora bakat dadi makcomblang kayane. Hehehe”. Akhirnya kami tertawa dan kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.

Masih berkaitan dengan dua hal di atas, beberapa hari yang lalu aku juga mendapatkan komentar yang unik via messenger dari salah seorang sahabatku,

“Pin, dalam hal ini aku memiliki dua pernyataan untukmu. Pertama, kau setia. Itu terbukti dengan perasaan yang kau anggap bodoh itu masih melekat hingga saat ini. Kedua, kau BERLE. Yah, kau terlalu berlebihan, terlalu ekspresif dan tidak tahu bagaimana menutupi perasaanmu”.

Malu bercampur marah perasaanku saat itu. Ingin sekali aku kembali ke saat itu dan mengatakan, “Wahai sahabat, kau lihatlah aku, baik-baik saja bukan?”. Namun aku hanya dapat mengatakan, “Kau salah jika aku setia. Aku hanya terjebak oleh perasaan yang sama sekali tidak aku mengerti. Dan memang benar sepertinya bahwa aku BERLE dan ekspresif”. Itulah beberapa komentar orang-orang yang aku ingat tentang penilaian mereka mengenai caraku mengatur perasaanku.

Aku ingin kembali menyelami masa laluku saat ini. Tentang bagaimana aku mendapatkan kalimat: Janganlah Menikah Dengan Orang Yang Kau Cintai, Tetapi Menikahlah Dengan Orang Yang Mencintaimu, dimana kalimat tersebut aku tuliskan pada buku tahunan SMA-ku dulu. Dan ternyata aku letakkan juga pada tugas akhirku. Hanya saja aku modifikasi sedikit. Dengan latar belakang Matematika bidang Aljabar, dan agar terkesan matematis, maka aku beri syarat agar pedoman hidupku tersebut dapat berlaku universal sehingga berbunyi sebagai berikut :

“Jika Anda Belum Menikah Maka Janganlah Menikah Dengan Orang Yang Kau Cintai, Tetapi Menikahlah Dengan Orang Yang Mencintaimu”.

Kalau Anda tidak percaya, Anda dapat membuktikan sendiri dengan datang ke perpustakaan MIPA UGM dan mencari skripsiku dengan judul Modul Perkalian, dan Anda dapat menjumpai kalimat tersebut terpampang dengan jelas pada lembar persembahan dan kata mutiara. Lebih khusus lagi, kalimat tersebut berada pada bagian bawah dan tercetak tebal miring.

Perlu Anda ketahui bahwa kalimat di atas tidaklah muncul dengan sendirinya. Berawal dari sebuah obrolan antara ibu dan anak, maksudku aku dan ibuku, tentang bagaimana perjalanan kisah cintanya sehingga beliau bertemu dengan ayahku dan melahirkan aku. Dari situ diperoleh hasil bahwa ternyata belian mendapatkan cinta pertamanya, maksudku ayahku adalah cinta pertamanya. Walaupun mungkin sepertinya ibuku adalah wanita yang kesekian yang masuk di hati ayahku. Aku harap Anda tidak bermasalah dengan istilah “cinta” yang aku gunakan di sini. Yah, ibuku unik. Prinsipnya yang sederhana telah membuatku belajar dari hal ini. Prinsip sederhana tersebut adalah :

“Hidup itu sekali. Jadi kalau bisa menikah satu kali, jatuh cinta satu kali”.

aku2

Subhanallah. Ibu, kau orang yang beruntung. Apakah kau tahu bahwa aku berusaha menirumu? Maksudku dalam hidupku yang hanya satu kali ini, aku ingin sekali sepertimu, menikah satu kali, dan jatuh cinta satu kali. Tidak berlebihan kan, bu? Jadi, aku harap kau tidak lagi berusaha mencarikan “seseorang” untukku. Aku hanya tidak seberuntung dirimu, dimana telah merasakan “jatuh hati” pada saat yang salah. Maksudku jatuh hati pada umur yang tidak tepat. Aku masih terlalu muda untuk merasakan “perasaan” itu. Perasaan yang pasti akan dirasakan oleh semua orang, laki-laki dan perempuan, dan itu termasuk diriku. Hanya saja aku terlalu dini untuk merasakannya. Namun aku bersyukur karena masih memilikimu, karena aku dapat mendiskusikannya denganmu. Bersamamu aku belajar untuk mengendalikan peraaan ini, tentang bagaimana seharusnya aku bersikap sebagai laki-laki dalam hal ini. Oh ibu, terima kasih, hanya itu yang dapat aku ucapkan hingga detik ini.

Ibu, aku tahu kau selalu berdoa untukku. Berdoa agar aku selalu dalam lindungan-Nya, agar aku tidak melakukan hal-hal yang membuatmu malu. Berdoa agar aku dapat meraih apa yang aku inginkan. Kau tahu ibu? Sampai saat ini perasaan itu masih melekat di hatiku. Perasaan ingin menirumu, meniru prinsipmu itu, “Hidup sekali, menikah sekali, jatuh cinta sekali”. Itulah salah satu keinginanku bu sampai saat ini, menjadikan yang pertama sebagai yang terakhir. Aku tahu kau mendoakanku. Aku sangat tahu itu.

Kemudian apa kaitan antara dua hal di atas, maksudku antara “kata mutiara” yang ada di skripsiku dan obrolan aku dan ibuku tersebut? Perjalananku dalam menemukan cinta pertama ternyata tidak semulus yang aku bayangkan. Aku mendapatkan cinta pertama pada saat yang tidak tepat dan aku harus membayarnya dengan sangat mahal. Di satu sisi aku ingin mendapatkan cinta pertamaku seperti ibuku dan di sisi lain adalah keadaan yang tidak mendukung. Seiring berjalannya waktu, pengalaman mengajarkan aku bahwa sebenarnya aku dapat berbahagia jika ada orang-orang yang peduli peduli padaku. Dan ternyata memang demikian, selama ini aku bahagia karena orang-orang di sekelilingku sangat mencintaiku. Aku merasa bahagia saat membalas cinta mereka, tanpa syarat tentu saja.

Haduuh, sudah sangat larut. Sepertinya aku harus memaksa mataku untuk tidur. Baiklah, saatnya istirahat. Aku harap Anda tidak menganggapku BERLE dalam hal ini. Kalaupun demikian, tidak apalah, itu adalah hak Anda. Mari kita tetap berbagi cerita dan masa lalu. Apa saja. Nuwun.

Footer: dokumentasikanlah hidup Anda selalu.

Facebook Comments:

19 thoughts on “Pertama Tidak Sama Dengan Terakhir?

  1. huahahaha…………. Sepertinya umur2 sekita memang sedang banyak di pertanyakan orang ya pin? senasib, tp biarlah… aku si blm begitu perduli ^^
    gyaaaa… lanjut S2 hiks.. Ngiri, aku pengen banget……….. Tp S1 ku be urung lulus, hahahaha, rencana ttp ada, tp batas waktu blm di tentukan
    salut pin aku aring kowe yakin…..

    ” admin :
    iya nih, tapi gapapa lah, buat penyemangat dan pewarna hidup kita. kalau ga diingatkan nanti ga nikah-nikah lagi. πŸ˜› aku juga belum begitu peduli saat ini.

    Iya is, semangat. Selesaikan skripsimu. Tuntutlah ilmu setinggi langit. saling mendoakan ya. semoga skripsimu lekas selesai. Wah, salut kenapa? jadi malu nih. awas, nanti jatuh cinta, lho. hahaha πŸ˜›

  2. kamu berle pin…tapi kalo nggak berle itu bukan kamu…yah sepintar-pintarnya kamu aja lah mengendalikan emosi, gejolak yang ada di dalam dirimu sehingga nggak berbalik merugikanmu sendiri…

    ” admin :
    Iya wisna, aku memang BERLE. Iya, aku tahu itu. Saling mendoakan yah… πŸ˜›

  3. Hemmm… Jika ada perkataan sahabat yang membuat Ipin malu dan marah, maafkanlah dia. Aku yakin, insya Allah, dia tak sengaja melakukan itu. Btw, aku masih belum nyambung dengan asal mula munculnya kalimat “Jika Anda Belum Menikah Maka Janganlah Menikah Dengan Orang Yang Kau Cintai, Tetapi Menikahlah Dengan Orang Yang Mencintaimu”. Kalo melihat asbabun nuzulnya, harusnya yang muncul adalah kalimat “jatuh cintalah hanya sekali, yaitu pada orang yang kau nikahi”.

    Ah, maaf lagi ya Pin jika komentarku ini kembali membuat Ipin malu dan marah. Lho, kok merah gitu to mukanya? Hem, udah siap-siap ngambil sendal juga, ya? Yah, seperti yang biasa Ipin lakukan, nikmati saja perasaan itu. Kendalikan sebaik-baiknya. Ok, sobat?

    ^_^)V

    ” admin :
    Iya, aku maafkan dia. Kalau ga begitu, tulisan ini ga akan muncul dong.
    Sebentar-sebentar, masa ga nyambung sih? apa perlu aku edit lagi yah?
    Ga kok ren, tenang aja. Loh, kok kamu langsung tahu gitu? Mukaku keliahatan banget ya? Aku memang ga bisa menutupi perasaan ren. πŸ˜›

    Baik ren. Itu juga pesan ibuku kok. [^_^]

  4. Waah… nasib kita sama. yang beda cuma wajah kalee ya? he2….

    ” admin :
    waah, ada yang senasib denganku ya? weh, kalau wajah ga usah dibanding-bandingkan gitu mas? kamu kalah telak deh. hehehe πŸ˜›

  5. Mas Edi sama Ipin sama-sama pernah ditolak ya? Wa ka ka kak
    Eh pin berarti kamau harus menikah dengan orang Gorontalo dong kalau
    “Jika Anda Belum Menikah Maka Janganlah Menikah Dengan Orang Yang Kau Cintai, Tetapi Menikahlah Dengan Orang Yang Mencintaimu”
    adalah pedoman hidupmu. Hm…masak aku harus ke Gorontalo untuk menghadiri walimahanmu Pin…bisa mabok laut nanti

    “admin :
    Hemm, itu anugerah bro. Yee, siapa juga yang mau nikah sama orang Gorontalo? Naik pesawat aja bud, belum pernah kan? πŸ˜›

  6. Mana tulisan barumu Pin? wah… komentarnya si Arrul… payah. JANGAN BUKA RAHASIA DONG! he2…

    ” admin :
    weh, belum sempat nulis lagi nih mas. sabar yah. aku tahu kau adalah salah satu fansku. πŸ˜› Iya nih mas, si budi ini sukanya buka rahasia orang aja. hehehe

  7. Pin..ipin.. Janjane kowe cocok dadi trainer motivasi lho.. jajal bae.. sapa ngerti dadi dalan rizkimu.. Salam perdamaian pin!!

    ” admin :
    Hah, sing bener kowe mam? Masa cocok sih? Aku kepengin dadi dosen je.
    Dongakna baen lah ya…Sukses selalu untukmu πŸ˜›

  8. Barrack Obama juga berkulit hitam, tapi bisa jadi presiden Amrik. Ipin insyaAllah bisa sukses juga (dlm karir & cinta). Yang pentig kita harus bisa bedain apa yang kita rasa, apakah itu cinta, sayang, sebuah ketertarikan, atau kekaguman sesaat.

    Search into your deepest heart n you can get the answer. Jangan prdulikn kata2 damar, lha wong dia juga item kok (:-Pwe…, just kidding, mar!! He.3x) Jangan bawa masalah apartheid.

    Piiiz…

    ” admin :
    Duh, kenapa masih seputar “HITAM” ya? padahal kulitku ga hitam-hitam amat kok. Amin, sukses dalam karir dan cinta, sepertinya menyenangkan yah? sukses juga selalu untukmu bu.

    Baiklah akan aku search dulu di “deepest heart”-ku. hehehehe. πŸ˜›

  9. wAH.. Kacau dunia persilatan mar.. Monggo dirembug kekeluargaan antara damar dan ipin lah.. aq ra melu2..Koe wis menyentuh masalah SARIP mar.. (SUKU & AGAMA & RAS DAN IP)

    ” admin :
    Weh, ga kacau kok, mam. Masih damai-damai aja. Duh, kalau sudah menyangkut SARIP sepertinya harus di-mejahijau-kan deh … πŸ˜›

  10. Mungkin gak cm kamu yang pny perasaan sprti itu pin…Hampir semua orang pernah “terjebak” perasaannya sendiri, gak hanya tentang CINTA, tapi hampir semua hal penting dalam hidupnya..Tp klo bwatQ itu bukanlah keadaan yang mesti kita pusingkan, selama yang kau lakukan itu kaudasari dengan KEYAKINAN atas perasaan dan bukan cma pemikiranmu, bwatQ gd istilah terjebak, berada di persimpangan mungkin, tapi toh akhirnya dy harus memilih khan, jalan mana yang harus dy lalui..So, I think U weren’t trapped..

    Terus jaga dan pelihara apa yang jadi pedoman hidupmu..Mungkin itu berbeda dengan orang lain, tapi itulah yang terbaik untuk HIDUPMU. btw SELAMAT atas WISUDA Sarjana-nya. .Smga bs menjadikan qt seorang yang memiliki masa depan lebih BAIK.AMIIIN. ..

    ” admin :
    wah, benarkah? apakah hampir setiap orang merasakan perasaan ini? yah, mungkin benar begitu. baiklah, akan aku jaga prinsip hidupku tersebut. iya, selamat untuk kita berdua ya. semoga kita dapat menjadi salah satu elemen pembangun bangsa ini. amiin.

  11. MAR, 4 bintang yang disembunyikan membuatku berpikir siapa gerangan,,,,
    apakah N**I….hihiihihihi …Asal nebak pinnn…PISS 4 all…
    “Sudahlah Pin, sama si A saja. Lihat tuh, dia begitu perhatian sama kamu, kurang apa coba? Buat apa mengharapkan si **** yang sudah jelas-jelas tidak mengharapkanmu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik”

    ” admin :
    heh, jangan berpikir macam-macam loh. itu bisa siapa saja. hahahaha…

  12. assalam mu’alaikum wr wb…hue hue hue….baca cerita kakak diatas….ntah napa jadi terharu nicgh….rasa iang begitu abadi hanya untuk se2orng iang kita ingin …. bener khn kak? πŸ™‚

    ” admin :
    wa’alaikumsalam wr.wb. wah, aku kok jadi terharu lagi baca tulisanku itu ya? iya, kurang lebih begitu, tetapi aku sedang belajar untuk berusaha menerima kenyataan, bahwa terkadang sesuatu yang kita inginkan itu belum tentu kita dapatkan.

    *jangan terharu lagi yah*

  13. mas tanya..nulis ini..udah jadian ma mbak reni belum?? wkwkwk..kuk komenne mbak reni pake sobat2 gitu..qiqiqi

    “admin:
    jadian itu apa to ning? πŸ˜†
    tapi yang pasti, saat itu mbak reni udah naksir aku kayake. hehehe

Leave a Reply to Imam Mahdi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *