Aku Nonton Yogyakarta Gamelan Festival 2009

aku2

Sabtu sore kemarin, Om Zaki mampir ke kosku. Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan “secara” laki-laki sepertinya. Terlihat juga bahwa ia sedikit memiliki kegundahan dalam hati. Sejak melihat tatapan matanya yang sedang haus perhatian dan kasih sayang, mau tidak mau aku harus memberikannya sore itu juga. Karena dia sudah “menyogok” diriku dengan cokelat maka diriku harus bersedia menemaninya sore itu. Namun, raut wajahnya berubah beberapa saat kemudian, sesaat setelah ia membaca sms yang baru saja masuk ke hapenya. Aku hampir bertanya, “Siapa yang meninggal dunia mas?”, kalau saja ia tidak lekas mengeluarkan kalimar ajakan, “Eh Pin, malam ini ada acara ga? Si Tetet ngajakin nonton Festival Gamelan Internasional di Taman Budaya, sama Mas Ardhi juga rencananya.” Karena sepertinya aku juga butuh refreshing, daripada berkutat dengan computer dan internet, aku pikir akan lebih baik kalau malam minggu ini aku habiskan bersama mereka.

Aku sedikit bingung, saat kami datang ke sana, tidak ada pungutan biaya sama sekali. Aku berdecak kagum dan bertanya dalam hati, “Siapa yang mendanai acara berskala internasional ini?” Setelah berada di dalam gedung, baru aku menyadari bahwa ada beberapa sahabat yang juga ikut menonton, yaitu Beti yang datang bersama temannya dan beberapa orang teman KKNku: Agung, Tika, dan Yono. Aku benar-benar dibuat terpukau di acara ini. Gamelan ini membuatku semakin bangga akan negeriku, Indonesia. Kalau disuruh memberi nilai, aku berani memberi nilai 9,5 skala 10.

Ternyata acara ini sudah terkonsep sampai tahun 2014, walaupun tidak lagi mendapatkan bimbingan langsung dari penggagasnya: Bapak Sapto Raharjo. Beliau telah meninggal dunia beberapa waktu yang lalu. Untuk yang keempatbelaskalinya ini, Yogya Gamelan Festival mengambil tema EVERY WHERE, yaitu menggaungkan gamelan di manapun. Mulai tanggal 16 sampai dengan 18 Juli kemarin, beberapa stasiun radio di Yogyakarta telah mengudarakan gaung gamelan selama 30 detik, yang telah menyertai berlangsungnya Yogyakarta Gamelan Festival 2009 ini dan bergaung di segenap ruangan, di mobil, di took-toko, di pasar-pasar, di kantor-kantor, bahkan di hape Anda sekalipun, di manapun Anda berada.

Kalau mengutip dari selebaran yang aku dapat, ada beberapa negara asing yang turut berpartisipasi pada acara ini, dan sepertinya pertanyaanku terjawab sudah mengenai bagaimana pendanaan acara yang berskala internasional ini. Negara-negara tersebut adalah sebagai berikut: United Kingdom, Amerika Serikat, Prancis dan Jepang. Dari negeri sendiri, telah tampil peserta dari Pemekasan (Madura), Tolitoli, Jakarta, Solo dan Yogyakarta sendiri.

Menjelang akhir acara, semua peserta benar-benar dibuat terpukau oleh penampilan Kabud Hitam dari Pemekasan, Madura. Sebagian besar peserta di belakang akhirnya memberanikan diri turun ke depan panggung untuk berjoged dan memberikan semangat kepada peserta terakhir ini. Dan yang lebih membuat seluruh peserta berdecak kagum adalah pada saat Kabud Hitam ini berkolaborasi dengan musik gamelan yang yang dibawakan oleh peserta dari Yogyakarta. Aku tidak tahu, apakah mereka melakukan latihan bersama sebelumnya atau tidak, tetapi yang pasti, penampilan kedua tim ini memperoleh banyak tepuk tangan dari seluruh peserta. Aku yang tidak bisa ikut berjoged, akhirnya berusaha menyibukkan diri dengan mengambil gambar dengan hapeku.

Berikut adalah kutipan tulisan yang aku dapatkan setelah membaca selebarannya, dari website yang membantu mempublikasikan acara ini.

14th Yogyakarta Gamelan Festival 2009

Event Internasional yang mengumpulkan pemain dan pecinta gamelan. Pada awal abad ke-21, musik gamelan berkembang sangat bagus. Kehidupan gamelan dari abad ke abad telah mengalami perkembangan yang sedemikian rupa. Sampai saat ini, diberbagai negara di dunia, telah berkembang seni gamelan, baik itu gamelan klasik (gending) juga bermacam karya komposisi gamelan baru. Gamelan memainkan peranan penting dalam pengembangan budaya global. Itulah mengapa gamelan terbuka lebar untuk melakukan dialog, berbagi dan kolaborasi dengan berbagai jenis musik. Yang penting adalah semangat kebersamaan. Sejak gamelan kelompok di banyak negara adalah budaya aktif, sangat penting bagi semua pecinta gamelan di seluruh dunia untuk berkomunikasi satu sama lain. Gamelan saat ini gamelan telah merambah di 33 negara/wilayah: Argentina, Australia, Austria, Belgium, Canada, China, Columbia, Cezch, Finland, France, Germany, Ireland, Israel, Italy, Japan, Korea, Malaysia, Mexico, Netherlands, New Zealand, Palestine, Philippines, Poland, Russia, Singapore, Spain, Suriname, Swiss, Taiwan, Thailand, UK/Inggris, USA dan Indonesia.

from: event.web.id

Sungguh salut diri ini dan malu rasanya saat ada warga negara asing yang tertarik dan justru mendalami untuk mempelajari gamelan yang merupakan ciri khas dan jati diri Indonesia ini. Berikut adalah gambar yang berhasil diselamatkan dari Tempat Kejadian Perkara malam itu. Sebelumnya, aku ucapkan banyak terima kasih kepada Mba Okiviana, kawan baruku di malam itu, yang bersedia mengirimkan hasil jepretannya saat itu. Mohon maaf kalau foto-fotonya hanya sedikit, karena kondisi panggung yang memang disetting gelap, jadinya ya hanya sedikit gambar yang bagus dan masih bisa dilihat dengan jelas.

aku2

aku2

aku2

aku2

aku2

aku2

*errr, pas ada fotoku kok malah ga jelas gitu gambarnya?*

Aku hanya berharap bahwa gamelan yang merupakan symbol jati diri bangsa Indonesia ini dapat mempersatukan seluruh rakyat Indonesia. Saat ini begitu sulit sepertinya bangsa ini untuk bersatu, entah apa penyebabnya. Aku jadi ingat kata Tika saat ia mulai bergoyang di depan panggung, “Lihatlah Pin, musik gamelan menyatukan kita!”.

Sekitar pukul 11an malam acara berakhir, dengan tepuk riuh penonton tentu saja. Kami mampir ke warung kopi terlebih dahulu untuk sekedar menghangatkan badan dan melanjutkan perjalanan kembali menuju rumah Om Zaki. Berakhirlah petualangan kami: Mas Tetet, Mas Ardhi, Mas Zaki, dan aku sendiri. Kami berempat menginap di rumahnya malam itu. Intinya, aku tidak sendirian malam minggu kemarin, dan ini prestasi bagiku, karena seringkali aku menghabiskan malam mingguku dengan nonton film di kos dan main PES 06 bersama Nanang, Joko, Winky, dan pecinta games itu yang lain. Namun itu dulu, waktu kami masih sering menghabiskan waktu bersama. Saat ini? Aku nyaris sering menghabiskan malam mingguku sendirian.

Baiklah, mari kita senantiasa berbagi cerita dan pengalaman. Apa saja. Nuwun.

NB: karena aku penasaran dengan Almarhum Sapto Raharjo yang merupakan penggagas Yogyakarta Gamelan Festival ini, maka aku googling saja tadi, dan inilah yang aku dapatkan.

SAPTO RAHARJO

aku2

Sapto Raharjo menggeluti dunia musik ia geluti sejak tahun 1963. Pada awal kariernya ia tergabung dalam sanggar tari dan karawitan Arena Budaya Yogyakarta. Di sana ia belajar memainkan gamelan, struktur gending, tari Jawa terutama sebagai Hanoman dan Laksmana (Sendratari Ramayana). Dampit group ia bentuk karena merasa bahwa jalurnya adalah di musik bukan bisnis. Pekerjaannya berkaitan dengan bidang multimedia yakni, seniman musik, broadcaster, organizer dan tergabung dalam Komisi Penyiar Radio Indonesia. Pernikahannya dengan Isti Indraeni dikaruniai Tiga orang anak yaitu Desyana Wulani Putri,S.E., Ishari Sahida dan yang terakhir adalah Dyah Sawarni Dewi.

Riwayat pendidikannya, dimulai TK BOPKRI Ungaran Yogyakarta, kemudian SD Ungaran Yogyakarta, SMP 5 Yogyakarta, SMA 3 Yogyakarta, dan yang terakhir di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Pengetahuan, keahlian dalam bidang seni terutama musik ia dapatkan dari membaca banyak literature, dengan berhubungan dengan banyak pihak. Bisa dikatakan dia belajar bermusik secara otodidak. Karena alat musik utama yang digunakan adalah gamelan, maka tokoh yang paling dominant mewariskan pengetahuan tentang gamelan adalah seorang bapak gamelan yakni Ki Cokro Warsito. Sudah banyak karya-karya seni musik yang dihasilkannya dari yang berupa konser-konser maupun rekaman atau album, diantaranya adalah konser musik dengan judul Musik Kaleng, Yogyharmonik 80, WIN (konser musik 3 hari non-stop yang dipentaskan di Yogyakarta). Sedangkan judul album yang dihasilkan diantaranya adalah :Borobudur Suite, Java, Merapi, dan Katak-katak Bertanggo. Selain berupa album dan konser-konser, Sapto Raharjo juga membuat karya-karya tulisan dan buku.

Sapto Raharjo adalah seorang seniman yang identik dengan gamelan. Tak hanya gamelan tradisi, Sapto juga melakukan ekplorasi gamelan dengan menggunakan teknologi modern seperti komputer dan synthesizer. Perannya bagi perkembangan gamelan semakin jelas ketika ia membuat festival internasional Yogyakarta Gamelan Festival pada tahun 1995 yang hingga kini masih berlangsung. Pada Jumat dini hari, 27 Februari 2009, Sapto tutup usia pada usia 54 di Rumah Sakit Panti Rapih pada pukul 01.50 WIB karena penyakit sirosis atau pengerutan hati. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Blunyah Gede, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta.

from: gudeg.net

Footer: dokumentasikanlah hidup Anda selalu.

Facebook Comments:

9 thoughts on “Aku Nonton Yogyakarta Gamelan Festival 2009

  1. hihihihi, YGF taon ini emang keren mas….. nggak rugi aku bela2in kabur dari KKN…..hehehehehe. kalo yang taon lalu, ada penampilan keren dari Mr. Vincent Mc.Dermot. tp yang taun lalu ga interaktif. but, keren juga sih. emang bulan2 ini banyak festival…..

    ” admin:
    wahh, mba oki ternyata sedang melarikan diri dari KKN. tahu gitu, aku laporkan ke dosen pembimbing lapanganmu kemarin. hehehe. wah, aku itu udah acara terakhir kan ya? harusnya kan 3 hari. duh, tahun lalu aku malah ga tahu, dan imbasnya ya ga nonton. tahun depan nonton lagi yuk…

  2. wah sayang, Malam Sabtu itu aku lg sama Radit, membicarakan masa depan, he3. Ada toh di milis? Tapi dirimu Pin, kalau nggak diajak dan yang ngajak nggak rame-rame, mana mungkin kamu mau dateng ke acara kayak gini? heheheh.

    ” admin:
    wah, kalian membicarakan masa depan? ehmm, perasaanku ga enak nih, jadinya siapa yang ngalah? hehehe. yang di milis itu kan bukan tentang “masa depan”. iya wis, aku sukanya tuh kalau rame-rame, jadi kesannya “regudugan” gitu. keren kan?

  3. Wah… gamelan!! Jadi inget ekskul SMA dulu. Kebo Giro..Subakwastawa.. Kangen…

    ” admin:
    semoga gamelan menjadi salah satu elemen pemersatu bangsa Indonesia ini. hidup Indonesia!!

  4. hehehehehehehe… saya salah satu pemain di kabud Hitam Dari pamekasan Madua… hem thank atas aplose na penontonnya asik banget hehehehehe ga kalah serunya ma tuhun 2007 kita juga pernah main di situ..Untuk sapto raharjo thank..

    ” admin:
    wahhhhh, minta tanda tangan dong…. *noraknya keluar nih*
    kapan2 main ke jogja lagi ya, mas. wah, disamping pandai bermain perkusi, njenengan juga pinter ngeblog ya? wah, multitalenta juga njenengan ini. semangat, mas!!

  5. Sory Pin, foto hasil jepretanku jelek… Mungkin karena ada kamu di situ yah? he3… ๐Ÿ˜€

    ” admin:
    gapapa kok, mas. mungkin ini sudah takdir. ada untungnya juga kan? wajahku yang cukup menawan ini ga terlalu terekspose. bayangkan saja, kalau fotonya bisa jelas terlihat, kan bisa gawat, mas!

  6. taun depan nonton lagi..hehe..

    ” admin:
    emang ini tiap tahun ya, mas? aku pikir 5 tahun sekali, hehehe. :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *