Jangan “Sok” Tahu!

aku2

Sekitar pukul 12 siang tadi, Om Zaki singgah lagi di kosku. Ada urusan yang harus kami selesaikan secara “laki-laki” tentu saja, karena masalah sebelumnya memang selesai. Kebetulan Rully juga belum berangkat ke Semarang siang tadi, jadi kami sempatkan untuk makan bakso dan mie ayam bersama, dan pilihan tempat tertuju pada warung bakso sebelah timur masjid Pogung Dalangan. Setelah selesai makan, sesegera mungkin aku melarikan Rully ke Terminal Jombor karena dia langsung menuju Semarang siang tadi.

Setelah itu, tinggallah aku dan Om Zaki berdua. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka diputuskan untuk nonton film GOOD WILL HUNTING, sebuah film yang aku dapatkan dari Radit, keluaran tahun 2000 kalau tidak salah. Film lawas memang, tetapi patut Anda tonton sepertinya. Aku juga merasa bahwa orang di sebelahku saat itu sedang butuh hiburan. Entah kenapa aku bisa menduga bahwa dirinya sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang cukup mengganggu, tetapi sayang sekali, beliau sama sekali tidak ingin membaginya denganku. Aku hanya berharap bahwa aku salah, dan dugaanku sama sekali tidak benar.

Dikisahkan dalam film itu, ada seorang pemuda jenius tetapi “bermasalah”. Ia berhasil memecahkan soal-soal matematika yang diberikan oleh seorang professor di kampus MIT sana. Soal-soal tersebut ditulis di papan tulis di depan kelas, diperuntukkan bagi mahasiswanya yang sangat berminat kepada matematika, dan diberi hadiah kalau berhasil memecahkannya tentu saja. Soal-soal tersebut bukan sembarang soal, karena minimal dibutuhkan dua tahun untuk memecahkannya bagi orang sekaliber professor tersebut. Sang professor akhirnya tahu bahwa yang berhasil memecahkan soal-soalnya adalah pemuda yang bermasalah tadi, yang ternyata bekerja sebagai tukang sapu di gedungnya. Dan kemudian ia berusaha mencari tahu siapa sebenarnya pemuda ini.

Akhirnya ia berhasil menemukan beberapa fakta bahwa pemuda ini telah memiliki trak record yang sangat buruk, dan saat ditemui, pemuda ini dalam keadaan “berurusan” dengan kepolisian karena kasus pemukulan terhadap polisi. Kali ini sang professor berhasil menyelamatkan pemuda ini dari penjara, tetapi dengan dua syarat, yaitu yang pertama adalah bekerja sama untuk menyelesaikan persamaan-persamaan matematika yang cukup rumit dan yang kedua adalah menemui psikiater.

Sudah lima psikiater yang merasa tidak sanggup menangani pemuda yang bermasalah ini. Namun sang professor tidak kehabisan akal. Akhirnya ia menghubungi teman kuliahnya dulu yang saat ini menjadi seorang psikolog terkemuka di kotanya, dan akhirnya sang psikolog tadi akhirnya penasaran dengan sang pemuda bermasalah tadi.

Untuk pertama kalinya, memang keadaan tidak semulus yang dibayangkan oleh sang psikolog, karena beliau berhasil dibuatnya marah, sehingga memutuskan untuk sesi terapi saat itu. Namun, jelas sekali sang psikolog tersebut sangat tertarik dan ingin membantu pemuda bermasalah tadi. Untuk pertemuan yang kedua akhirnya sang pemuda tadi diajak keluar kantor dan menuju danau besar di dekat kantornya dan mengajaknya berbicara. Inilah kalimat-kalimat yang keluar dari sang psikolog yang patut Anda ingat dan Anda renungkan sepertinya.

aku2

Kupikirkan perkataanmu kemarin, tentang lukisanku. Tak tidur semalaman, seolah menyadarkanku. Kau tahu apa yang terpikir olehku? Kau cuma seorang anak kecil. Kau tak tahu apa yang kau katakana.

Jika kutanya tentang seni, kau bisa jelaskan semua buku tentang itu. Michelangelo, kau tahu banyak tentangnya: aspirasi politik, dia dan orientasi seks, semuanya.

Jika kutanya soal wanita, mungkin kau lebih tahu. Kau mungkin sering bercinta, tapi kau tak tahu bagaimana rasanya bangun di sisi seorang wanita dan merasa sangat bahagia. Kau anak keras kepala.

Jika kutanya soal perang, kau mungkin ulas Shakespeare, tapi kau belum pernah alami, belum pernah merasakan sahabatmu sekarat di pangkuanmu, menatapmu dengan napas terakhir.

Jika kutanya soal cinta, kau mungkin beri kutipan Sonnet, tapi kau tak pernah merasakan tak berdaya di depan wanita, mengenal orang yang tatapannya meluluhkanmu.

Merasa seakan malaikat dan Tuhan ada di bumi hanya untukmu, menolongmu dari dalamnya neraka, tetapi kau tak tahu rasanya menjadi malaikatnya, untuk dicintai dan selalu ada selamanya, melewati segalanya, melalui kanker. Kau tak tahu rasanya duduk dua bulan di rumah sakit, dan pandangan dokter yang menganggapmu buang waktu. Kau tak tahu apa itu cinta sejati, mencintai sesuatu lebih dari dirimu. Kurasa kau takkan berani mencintai orang lain sebesar itu.

Saat melihatmu, aku tak melihat pria pintar dan percaya diri, aku hanya melihat anak kecil ketakutan. Namun kau memang jenius, itu pasti. Tak ada yang bisa mengerti dirimu, tapi kau merasa tahu semua tentangku karena melihat lukisanku, kau baca diriku.

Kau yatim piatu, kan? Kau pikir aku bisa tahu semua tentang dirimu hanya karena aku membaca Oliver Twist? Itu mengganggumukah? Sejujurnya, aku tak peduli dengan semua itu. Karena kau tahu, aku tak bisa pelajari apapun dari dirimu, kecuali kau mau bicara tentangmu, siapa dirimu. Aku terkesan sebenarnya, jadi ceritakanlah, tapi aku yakin kau tak mau, bukan? Kau takut apa yang mungkin akan kau katakan. Saat ini, terserah padamu.

Dan Anda tahu apa yang terjadi, saudara-saudara? Si pemuda tadi akhirnya tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa meneteskan air mata, karena sejatinya semua yang dikatakan sang psikolog tadi adalah benar adanya. Akhirnya sesi terapi bagi pemuda bermasalah tadi berlanjut sampai beberapa minggu ke depan. Akhirnya jati diri sang jenius pun terkuak sedikit demi sedikit. Intinya, sang pemuda diajak untuk terbuka ke semua orang, belajar mencinta orang lain, lebih dari mencintai diri sendiri dan diberikan wacana untuk tahu apa yang sebenarnya diinginkan dan dilakukan oleh pemuda tadi. Sang pemuda tadi akhirnya menjadi menusia yang bebas, bebas melangkah kemanapun ia mau.

Di mataku, film ini memberikan pelajaran bahwa seringkali kita merasa tahu dengan pasti tentang seseorang hanya karena sebuah keadaan atau beberapa contoh perbuatan yang ia lakukan. Dengan beberapa perbuatan buruk, seringkali pula orang yang melakukannya dianggap buruk untuk jangka waktu yang lama. Padahal kalau boleh mengatakan, tidak ada yang benar-benar bisa mengenal diriku kecuali diriku sendiri dan orang-orang yang setiap hari tahu apa yang aku lakukan. Begitu juga dengan Anda. Aku tidak bisa mengklaim bahwa Anda adalah orang yang dermawan hanya karena Anda sering terlihat mengeluarkan uang Anda untuk beramal. Anda juga tidak bisa “mencap” aku adalah orang yang tidak punya tujuan hidup hanya karena aku suka berwacana dan seringkali melakukan perbuatan bodoh. Jangan pernah menganggap seseorang ahli sejarah hanya karena ia memiliki dokumentasi lengkap tentang beberapa candi di negeri ini, atau barangkali menganggap seseorang adalah ahli matematika hanya karena ia berhasil menuliskan beberapa hal kecil seputar matematika. Oh, don’t do that!

Jangan pula menganggap seseorang bijak hanya karena seringkali ia bertutur kata seperti seorang pujangga yang alim. Dan yang terburuk mungkin, jangan pernah meremehkan kemampuan seseorang hanya karena ia tampil biasa saja, dan terkesan “ndeso”, karena penampilan seseorang bisa saja menipu, sangat menipu. Seringkali aku tertawa, walaupun dalam hati, jika ada orang yang dengan bangganya mengatakan bahwa ia mengenal orang lain dengan pasti, hanya karena ia sering menghabiskan waktu bersama orang tersebut. Ah, intinya setiap orang pasti memiliki “sisi rahasia”, dimana sisi ini tidak akan pernah diketahui oleh orang lain, bahkan oleh orang tuanya sendiri atau bahkan pasangannya sendiri. Aku yakin Anda mengerti apa yang aku bicarakan. Pokoknya, janganlah menjadi orang yang “sok” tahu, gambaran kasarnya.

Ehm , mungkin cukup dokumentasi hidupku hari ini. Mari kita senantiasa berbagi pemikiran dan resensi film. Apa saja. Nuwun.

Footer: dokumentasikanlah hidup Anda selalu.

Facebook Comments:

10 thoughts on “Jangan “Sok” Tahu!

  1. asyik diriku bisa bikin konflik πŸ™‚ huehehehe, Tapi tenang Pin, saya ndak akan berdebat panjang mengenai masalahmu ini. Karena saya lebih suka melakukan sesuatu ketimbang berdebat. hehehe. Toh, saya cuma manusia hina yang berusaha ingin tahu semuanya πŸ˜‰

    ” admin:
    hemm, aku merasa kamu juga “sok” tahu deh, wis.

  2. wah2..tampaknya kalian sedang marahan ya…hwahahahahaha…seperti biasa pin,kamu terlihat defensif…

    ” admin:
    kayaknya ada yang “sok” tahu lagi nih.

  3. Ehem… (jadi serik beneran) iya, aku juga sering sotoy. Sering banget malah…Tapi tulisan ini benar2 seperti cermin, dan aku harap SEMUA ORANG benar2 bercermin padanya…

    ” admin:
    wah, benarkah? terima kasih ya, nur.

  4. wah2..gara2 emailnya mawi ya? he3x..baru kali ini liat ipin kesal.

    ” admin:
    bukan kok ka, malah lebih tepatnya, email mawi itu gara2 tulisan ini, sebut saja usaha “membela diri”.

  5. @winky:

    jadi kalo aku mengkritikmu berarti aku sok tahu ya pin???kalo aku memujimu baru aku bisa dibilang tidak sok tahu ya pin??hehehehe….lihat kata2 ku pin..kan kubilang “terlihat”, jadi aku cuman mengungkapkan apa yg kulihat dan mencoba jujur…ya maaf jika itu membuatku menjadi kelihatan sok tahu hanya karena aku tidak memujimu..sekarang pertanyaannya apakah kamu sendiri bukan orang yang “sok tahu” pin??apakah menurutmu, kamu lebih mengenal dirimu sendiri daripada orang lain??yah kalo aku sendiri sih tetap merasa bahwa diriku masih butuh seseorang seperti psikolog yg ada dalam ceritamu diatas, seseorang yg bisa membuat kita melihat diri kita sendiri, makanya aku selalu membuka pikiran dan menerima kritikan terutama dari teman2 seperti kalian..nah dirimu sendiri gimana??tapi terserah kau juga ding pin..kan yg lebih tahu tentang dirimu kamu sendiri..nanti aku dibilang sok tahu lagi..hehehe

    ” admin:
    kau itu ngomong apa to, win? defensif, kritikan, dan pujian? apa yang ingin kau sampaikan padaku? aku curiga, bahkan mungkin kau ga ngerti apa yang kau bicarakan ini.

  6. @winky:
    ya sudah kalo g paham..kapan2 kita obrolin aja pin… πŸ˜€

    ” admin:
    iya win, ga paham. mungkin kita emang harus ketemu terus membicarakan ini. πŸ˜€

  7. diajak ngobrol paling-paling hasilnya sama aja Win πŸ˜€ Ipin sepertinya memang susah mengerti hal-hal semacam ini πŸ˜€

    ” admin:
    kalau gitu, kau ikut aja wis. setidaknya kau kan sudah merasa mengerti hal-hal semacam ini, jadi biarkan aku belajar darimu. πŸ˜€

  8. bungkus luar dgn kata2 tinggi tdk jaminan ya pak πŸ™‚ hikmahnya bagus… jangan sok teu πŸ˜€

    ” admin:
    iya bu menurutku, hehehe :mrgreen: . iya nih, kemarin aku merasa beberapa orang di sekelilingku banyak yang sok tahu nih, makanya aku nulis ini.

  9. tapi kadang2 tanpa kita sadari,, kita selalu menilai orang dari penampilan luarnya…

    “admin:
    hu uh mba, benar sekali…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *