Satu, Dua, Tiga, dan Empat

Alhamdulillah, sampai detik ini aku masih diberi nafas dan sehat. Aku juga merasa bahagia karena masih saja tersentak saat menyadari bahwa aku sudah punya istri. Dan istriku sangat mencintaiku. Anda tahu, aku sudah tidak sendiri lagi. Aku sudah tidak sendiri lagiii… ð

Aku pikir ini menakjubkan karena beberapa hari yang lalu, aku baru saja membaca tulisan-tulisanku saat masih galau, saat masih mengerjakan skripsi dan thesis, saat belum bisa move on. Anda tahu, aku membacanya bersama teman kerjaku di kantor. Tadinya aku berpikir dia akan tertawa terbahak-bahak. Namun, ternyata dia mengatakan, “Subhanallah, menakjubkan sekali, Pak.” Untuk itu, tidak ada salahnya aku menulis kembali. Karena mungkin ucapan serupa akan muncul lima tahun lagi, sepuluh, atau bahkan tiga puluh tahun lagi, ketika aku mungkin sudah tidak mampu mengayunkan jari-jariku di keyboard ini. Emmm, apa yang ingin aku tulis ya? Apa yang ingin aku bicarakan ya? Atau Anda punya request, apa yang ingin Anda ketahui dariku saat ini?

Baiklah, mungkin dari sini. Pertama, aku sekarang tinggal di daerah Bintaro, lebih tepatnya di kelurahan Jurangmangu Timur, dekat Puskesmas dan dekat tempat sampah. Aku hampir sepuluh bulan bekerja. Aku baru saja membeli motor Supra X second tahun 1997 setelah sekian lama mengendarai Grand 1994. Aku merasa ini prestasi bagiku, dan momen yang membuat aku yakin bahwa saat aku berani bermimpi, maka mimpi itu akan terkabul suatu saat nanti, yang bisa jadi aku bahkan lupa bahwa aku pernah memimpikannya. Anda tahu, aku pernah bermimpi ingin memiliki motor Supra X dengan velg racing saat SMA kelas satu alias tahun 2001 silam, dan sekarang tahun 2012. Itu artinya, mimpiku baru terwujud setelah sebelas tahun. Itulah sebabnya, aku merasa ini prestasi bagiku dan membuatku tidak takut untuk bermimpi lagi. Aku juga semakin yakin bahwa Allah ternyata tidak pernah tidur dan mendengar mimpiku, bahkan saat aku lelap tertidur. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

Kedua, aku sekarang semakin akrab dengan kata Papua. Perlu Anda ketahui, tiap hari aku dikelilingi oleh mahasiswa-mahasiswa dari Papua. Sekilas mereka tampak menakutkan, tetapi setelah hampir sepuluh bulan bersama mereka, aku semakin mencintai mereka. Kadang aku menangis, butuh waktu berapa lama agar Papua sejajar dengan pulau-pulau besar di negeri ini, agar rakyat Papua semakin yakin bahwa mereka adalah bagian dari NKRI, tidak seperti sekarang ini dimana media-media yang aku baca banyak yang melontarkan isu bahwa rakyat Papua merasa bukan bagian dari NKRI. Aku harap, aku bisa menjadi bagian dalam proses pembentukan karakter mahasiswa-mahasiswaku, khususnya yang dari Papua, agar mereka memiliki nasionalisme tinggi dan membuat NKRI semakin hidup dan berwarna.

Ketiga, istriku masih satu tahun lagi menyelesaikan tugas belajarnya. Terkadang kami masih bingung kapan waktu yang tepat untuk punya momongan. Di satu sisi, aku ingin memiliki momongan pertama sebelum lanjut kuliah S3. Namun, di lain pihak, dengan melihat realita yang ada, dengan fakta bahwa aku belum bisa memberikan rumah yang layak, membuatku semakin bimbang untuk menuruti kemauan istriku untuk punya momongan sebelum dia aktif bekerja kembali. Mungkin Anda punya ide untukku? Ohya, sampai detik ini aku masih merasa yakin bahwa pasangan suami istri yang tadinya dua orang seyogianya mengeluarkan keturunan juga maksimal dua orang. Kalau tidak, akan terjadi ketidakseimbangan. Apalagi dengan melihat realita yang ada bahwa populasi manusia saat ini sudah overload. Yang artinya, bumi sudah mengalami kesulitan untuk memberi makan manusia yang ada. Hal ini bisa kita lihat dengan sulitnya mencari air bersih di daerah-daerah tertentu di muka bumi ini. Dan banyaknya manusia yang kelaparan bahkan mati karena sulit mencari makanan. Kalau aku bertanya, apa yang bisa aku dan Anda lakukan untuk menyikapi semua ini, kira-kira apa jawabannya? Entahlah.

Keempat, kata atasanku beberapa bulan lagi aku akan mendapat remunerasi. Aku sangat berharap aku semakin bijak dalam mengelola keuanganku, baik untuk keluarga kecilku maupun untuk adik-adik dan keponakanku. Hal ini pula yang sebenarnya membuatku bimbang untuk memutuskan kapan saat yang tepat memiliki momongan. Bagi Anda yang punya adik lebih dari lima orang, bahkan yang paling kecil belum masuk TK, aku yakin bisa merasakan yang aku rasakan sekarang. Namun, aku sangat yakin bahwa Allah mencintaiku dan bukan tanpa alasan menjadikan aku sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara. Saat ini aku sedang bermimpi untuk memiliki rumah impian bagiku dan keluarga kecilku, alias KPR. Semoga bisa terwujud sebelum akhir tahun. Dan semoga cicilan tiap bulannya tidak membuat kepalaku meledak.

Aduh, perutku sakit. Aku harus segera ke belakang. Mungkin itu saja cerita dariku kali ini. Aku tidak tahu kapan lagi bisa bercerita seperti ini. Marilah kita tetap saling mendoakan, untuk bisa saling bercerita, berbagi pengalaman, apa saja. Nuwun.

Footer: dokumentasikanlah hidup Anda selalu.

Facebook Comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *